Laporan Praktikum Biokimia Umum

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

*ini hanya sebagai perbandingan karena laporan yang kami buat belum tentu benar.

BIOFISIK

Bobot Jenis (BJ), Tegangan Permukaan, dan Emulsi

Kelompok V

 

Fakultas Kedokteran Hewan

Institut Pertanian Bogor

Bogor 2010

 

I.             Pendahuluan

Biofisik merupakan perbatasan interdisipliner ilmu pengetahuan di mana prinsip-prinsip dan teknik fisika diterapkan untuk mempelajari makhluk hidup. Biofisika juga terlibat dalam menerapkan fisika dasar dalam dunia kedokteran  untuk mengembangkan dan mengimplementasikan teknik-teknik baru untuk menganalisis organisme baik DNA, sel, bahkan penyembuhan penyakit. (Anonim 2006)

Aspek biofisik yang akan dibahas pada percobaan kali ini adalah bobot jenis, tegangan permukaan, sifat koloid dan emulsi.

Praktikum bertujuan untuk  mengetahui cara mengukur bobot jenis suatu larutan dengan menggunakan hidrometer atau urinometer. Selain itu untuk mengetahui berbagai sifat emulsi dan koloid, pengertian bobot jenis, dan membuktikan adanya tegangan permukaan dari berbagai jenis larutan.

Pengukuran bobot jenis dilakukan pada beberapa larutan seperti NaCl dengan berbagai konsentrasi, akuades, dan urin manusia dengan menggunakan urinometer. Sedangkan pembuktian adanya tegangan permukaan dilakukan dengan jarum. Jarum ditetesi oleh berbagai jenis cairan seperti akuades, air sabun, alkohol, minyak, air kelapa untuk diketahui reaksinya setelah larutan menggenangi gelas arloji ( terapung/tenggelam). Percobaan pada minyak kelapa, air, gum arab, susu, dan margarine berguna untuk menentukan  jenis sistem emulsi dari gabungan antar zat tersebut apakah (W/O) atau (O/W).

II.          Metode Praktikum

Tempat               : Laboratorium Biokimia I

Waktu Praktikum           : Pagi (08.30-11.00)

Alat dan Bahan  :

Praktikum kali ini mengunakan alat-alat laboratorium, antara lain gelas piala, tabung reaksi, pipet, thermometer, cawan porselin, mortar, mikroskop.

Adapun bahan-bahan yang digunakan antara lain aquades, NaCl 0.3%, NaCl 5%, glukosa, air kelapa, air kran, larutan albumin 2%, urin, cairan empedu, air sungai, larutan detergen, NaCl 20%, alcohol, minyak mineral, ether,sudan merah, minyak kelapa, gum Arab, susu cair alami.

Prosedur Percobaan       :

Mengukur BJ dari berbagai cairan

A.    Bobot jenis berbagai larutan alamiah

Aqudes , NaCl 0.3%, NaCl 5%, larutan glukosa, air kelapa, air kran, larutan albumin dipipet ke dalam tabung reaksi, setiap tabung reaksi satu larutan. Setiap larutan yang berada dalam tabung reaksi di ukur temperatur dan bobot jenisnya. Hasil dari pengukuran dicatat dalam table hasil percobaan.

B.     Bobot Jenis Urin Manusia

Urin dari empat mahasiswa yang berbeda diambil sebagai sampel dalam percobaan menentukan bobot jenis urin manusia. Temperatur dan bobot jenis dari empat urin tersebut  diukur dengan menggunakan densitometer. Hasil dari pengukuran dicatat dalam table hasil percobaan.

Menentukan Tegangan permukaan cairan

A.    Tegangan permukaan cairan alamiah

Jarum dalam keadaan kering diletakkan dalam gelas piala yang kering pula. Aquades dipipet dan dimasukan kedalam gelas piala melalui dindingnya dengan tujuan agar jarum tidak terbebani larutan. Peristiwa yang terjadi pada jarum (mengapung/ tenggelam) dan dicatat hasilnya dalam table hasil percobaan. Gelas piala dan jarum yang telah digunakan dibersikan dan dikeringkan sebelum digunakan kembali. Langkah 1-4 diulangi untuk larutan yang berbeda, yaitu cairan empedu, air kelapa, air sungai, dan larutan detergen.

B.     Jumlah tetesan dan tegangan permukan

Aquades dipipet sejumlah 1-2ml. Tetesan dari aquades yang berada di dalam pipet dihitung. Pipet dibersihkan sebelum digunakan untuk larutan yang lain (NaCl 20%, alkohol, minyak mineral, air sabun). Khusus untuk minyak mineral, pipet dibersihkan menggunakan aquades dan ether.

Mempelajari sistem emulsi

A.    Emulsi minyak kelapa dan air

Minyak kelapa dan air dimasukkan ke dalam tabung reaksi dengan volume yang sama. Kedua cairan dikocok agar terbentuk emulsi. Kestabilan dari emulsi tersebut diamati, dan relatif  lebih stabil campuran dikocok lebih lama. Campuran di atas ditambah dengan sudan merah untuk mewarnai air untuk  mengetahui komponen minyak tanah dalam emulsi. Komponen yang membentuk tetesan dan yang sebagai media diamati. Kestabilan emulsi ketika dikocok lebih lama dan lebih kuat dibandingan dengan emulsi yang dikocok pertama kali.

B.     Emusi minyak kelapa dengan sabun

Langkah pada percobaan IIIA diulangi dengan mengganti air dengan larutan sabun. Emulsi tipe minyak-air (O/W) dan tipe air-minyak (W/O) dicari tahu perbedannya pada percobaan ini.

C.     Emulsi minyak kelapa dan Gum Arab

Gum arab ditimbang sebanyak 1 g dan dicampurkan dengan 5 ml minyak kelapa dala mortar yang benar-benar kering. Campuran ini digerus hingga homogeny dan ditambah 3 ml dengan aquades. Campuran diaduk lagi hingga homogeny dan pekat. Aquades sebanyak 5 ml ditambahkan sedikiy demi sedikit sambil diaduk. Kestabilan emulsi diamati dan tetesan emulsi diamati di bawah mikroskop.

D.    Emulsi alamiah

Kestabilan dan komponen emulsi susu cair dalam tabung reaksi diamati. Tetesan susu diamati di bawah mikroskop.

E.     Emulsi industri

Margarine diamati di bawah mikroskop.

III. Hasil dan Pembahasan

Tabel 1. Data pengukuran BJ

Jenis cairan Suhu cairan (0C) BJ terbaca (g/ml) Faktor koreksi BJ terkoreksi (g/ml)
Aquades 28,5 1,002 0,003 1,005
NaCl 0.3% 29 1,004 0,003 1,007
NaCl 0.9% 28,5 1,006 0,003 1,009
NaCl 5% 28,75 1,032 0,003 1,035
Glukosa 5% 28,75 1,018 0,003 1,021
Air kelapa 26,9 1,004 0,002 1,006
Air kran 26,2 1,018 0,002 1,020
Albumin 1% 28,5 1,002 0,003 1,005

Contoh perhitungan    :

3

Faktor koreksi =  [suhu cairan- suhu alat] x 0,001

3

= [28,5 – 20 ] x 0,001 = 0,003

BJ koreksi       = BJ terbaca + Faktor koreksi

= 1,002 + 0,003 = 1,005

Tabel 2. Data perbandingan bobot

Meja ke- Suhu cairan (0C) Suhu alat 

(0C)

BJ terbaca (g/ml) Faktor koreksi BJ terkoreksi (g/ml)
1 34 19 1,014 0,005 1,019
2 31 20 1,012 0,004 1,016
3 31 28 1,016 0,001 1,017
4 32 26 1,012 0,002 1,014

Contoh perhitungan    :

3

Faktor koreksi =  [suhu cairan- suhu alat] x 0,001

3

= [34 – 19] x 0,001 = 0,0037

BJ koreksi       = BJ terbaca + Faktor koreksi

= 1,014 + 0,005 = 1,019

Tabel 3. Data pengamatan tegangan permukaan cairan alami

Jenis cairan Pengamatan
Aquades Mengapung
Cairan empedu Mengapung
Air kelapa Mengapung
Air sungai Mengapung
Air sabun Tenggelam

Tabel 4. Data pengamatan jumlah tetesan cairan alami

Jenis cairan Jumlah tetesan (2 ml)
Aquades 37
NaCl 20% 48
Alkohol 86
Minyak mineral 76
Air sabun 67

Tabel 5. Pengamatan berbagai emulsi

Pengamatan Minyak Kelapa+air Minyak kelapa+sabun Minyak kelapa+Gum Arab Susu Margarin
Kestabilan Tidak stabil stabil Stabil stabil Stabil
Tipe emulsi (O/W) (O/W) (W/O) (O/W)
Terdispersi minyak Minyak air minyak
Pendispersi air Air minyak Air

Pembahasan

Mengukur bobot jenis suatu cairan digunakan alat yang disebut densitomer. Besar bobot jenis cairan dapat diketahui dengan cara membaca skala yang tertera dalam densitometer. Skala dibaca pada saat densitometer mengapung dalam zat cair pada keadaan tegak. Diameter gelas ukur yang digunakan harus lebih besar dari alat, agar alat tersebut dapat mengapung dengan baik. (Mujibur 2010)

Zat-zat alamiah yang digunakan pada percobaan kali ini, antara lain aquades, larutan NaCl 0,3%, larutan NaCl 0,9%, NaCl 5%, glukosa 5%, air kelapa, air kran, dan urin praktikan. Berdasarkan data hasil percobaan didapatkan nilai bobot jenis yang berbeda-beda dari setiap zat tersebut.  Berdasarkan hasil percobaan didapatkan bahwa bobot jenis aquades lebih rendah dari pada air kran. Hal ini disebabkan karena dalam aquades hanya terdapat air, kation, dan anion, sedangkan air kran masih memiliki kandungan mineral, mikroba dan berbagai elektrolit lainnya.(Mujibur 2010)

Besar bobot jenis suatu larutan dipengaruhi pula oleh konsentrasi larutan tersebut.  Hal tersebut dapat dilihat pada pengukuran bobot jenis NaCl dengan konsentrasi yang berbeda, yaitu bobot jenis NaCl 0,3% < NaCl 0,9% < NaCl 5%. Hal ini membuktikan bahwa konsentrasi suatu larutan berbanding lurus dengan bobot jenisnya. Bobot jenis urin dari setiap orang akan berbeda-beda. Hal tersebut tergantung dari pola hidup masing-masing orang, baik pola makanannya, berat badan, usia, jenis kelamin, dan kondisi lingkungan (temperatur, kelembaban, aktivitas tubuh, dan kesehatan serta kelancaran proses metabolisme tubuh. Bobot jenis orang yang terhidrasi dengan baik akan lebih rendah daripada orang yang kurang terhidrasi. Hal ini disebabkan orang yang terhidrasi kurang baik memilki konsentrasi zat terlarut yang lebih besar dari orang yang terhidrasi dengan baik.

Tegangan permukaan adalah suatu daya tahan lapisan tipis permukaan suatu cairan terhadap suatu usuha untuk mengubah luas permukaan larutan tersebut. Mengukur tegangan permukaan suatu cairan dilakukan dengan menguji mengapung atau tidaknya jarum dalam larutan. Berdasarkan teori tegangan permukaan, semakin tinggi konsentrasi suatu zat terlarut dalam larutan maka semakin rendah tegangan permukaannya. (Giancoli 2001)

Pada percobaan tegangan permukaan digunakan bahan-bahan yaitu cairan empedu, air kran, air kelapa, aquades, dan air sabun. Berdasarkan pengamatan jarum dalam air sabun tenggelam, hal ini dikarenakan oleh konsentrasizat terlarutnya lebih tinggi, sehingga tegangan permukaannya kecil. Namun, pada cairan empedu tidak ditemukan kesesuaiain dengan teori yang diungkapkan. Hal ini dikarenakan oleh jarum dan gelas arloji yang telah terkontaminasi oleh zat lain. Lain halnya dengan air kran, air kelapa, dan aquades didapatkan jarumnya tidak tenggelam karena konsentrasi zat terlarutnya yang rendah sehingga tegangan permukaannya pun lebih kuat. (Giancoli 2001)

Kekuatan tegangan permukaan dapat pula dilihat dari uji  penetesan cairan secara tegak lurus. Dari hasil percobaan didapatkan jumlah tetesan aquades<NaCl<air sabun<minyak tanah<alcohol. Berdasarkan teori yang berlaku, semakin kecil jumlah tetesan yang didapatkan, maka semakin kuat pula tegangan permukaan zat tersebut. Dapat dilihat bahwa air memiliki tegangan permukaan yang paling besar. Saat pengukuran jumlah tetesan minyak tanah, sebelumnya dilakukan pembilasan pada pipet dengan menggunakan eter. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kontaminasi dengan larutan lain.

Pada percobaan emulsi diketahui bahwa terdapat dua system emulsi yaitu (O/W) dan (W/O). Pada sistem emulsi (O/W), zat yang berperan sebagai pendispersi adalah air. Sedangkan pada system emulsi (W/O), zat yang berperan sebagai zat pendispersi adalah minyak kelapa.  Hal ini dapat diketahui dengan menambahkan sudan merah pada campuran zat-zat tersebut untuk mewarnai minyak kelapa, sehingga zat pendispersi dan terdispersi dapat dibedakan.. Pada umumnya gum alam tidak dapat larut dalam air karena kekentalannya yang sangat tinggi. Namun, pada gum arab hal tersebut tidak berlaku karena gum arab gum arab merupakan hidrokolid yang befungsi sebagai emulsifier. Emulsifier adalah  suatu zat yang akan berguna untuk menurunkan tegangan permukaan. Selain emulsi alam, terdapat pula emulsi industry seperti keju, yoghurt, dan lain sebagainya.

IV.       Simpulan

Dari hasil percobaan didapatkan bobot jenis aquades sebesar 1.005 g/ml, NaCl 0.3% 1.007 g/ml, NaCl 0.9% 1.009, NaCl 5% 1.035, glukosa 5% 1.021 g/ml,air kran 1.020 g/ml, air kelapa 1.006 g/ml, albumin 1.005 g/ml dan rata-rata kisaran bobot jenis praktikan sebesar 1.014-1.019 g/ml. aquades memiliki tegangan permukaan yang paling tinggi, sedangkan alkohol memiliki tegangan permukaan yang paling rendah. Emulsi yang paling stabil adalah emulsi anatara minyak kelapa dengan gum arab. Sedangkan emulsi antara air dan minyak kelapa merupakan emulsi yang paling tidak stabil dibandingkan dengan yang lainnya. Struktur margarine dibawah permukaan mikroskop terlihat lebih stabil daripada struktur susu.

V.                Daftar Pustaka

Giancoli DC. 2001. Fisika. Hanum Y, penerjemah; Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Physics, Principles with applications

Mujibur. 2010. Biofisik (Koloid, Buffer, dan Tekanan Osmotik). Terhubung berkala [http://one.indoskripsi.com/click/11305/0] 29 September 2010

KARBOHIDRAT


Pendahuluan

Karbohidrat adalah zat organik utama yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan biasanya mewakili 50 sampai 75 persen dari jumlah bahan kering dalam bahan makanan ternak. Karbohidrat sebagian besar terdapat dalam biji, buah dan akar tumbuhan. Zat tersebut terbentuk oleh proses fotosintesis, yang melibatkan kegiatan sinar matahari terhadap hijauan daun. Karbohidrat dibentuk dari air (H2O) berasal dari tanah, karbondioksida (CO2) berasal dari udara dan energi berasal dari matahari. Suatu reaksi kimiawi sederhana yang memperlihatkan suatu karbohidrat (glukosa) disintesis oleh fotosintesis dalam tumbuh-tumbuhan adalah sebagai berikut :

6CO2 + 6H2O + 673 cal —-> C6H12O6 + 6 O2

Karbohidrat dibagi menjadi  monosakarida, disakarida, trisakarida, dan polisakarida. Monosakarida adalah gula-gula sederhana yang mengandung lima atau enam atom karbon dalam molekulnya yang larut dalam air dengan rumus C6H12O6. Pada hewan zat tersebut terutama terdapat dalam darah. Pada konsentrasi tertentu, zat ini sangat vital untuk kehidupan. Disakarida adalah karbohidrat yang mengandung dua molekul gula-gula sederhana. Mempunyai formula umum C12H22O11. Disakarida yang sangat penting adalah sukrosa, maltosa dan laktosa. Trisakarida terdiri dari tiga molekul monosakarida yaitu galaktosa, fruktosa dan glukosa. Raffinosa adalah suatu trisakarida yang terdapat dalam gula biet dan biji kapas. Polisakarida mempunyai rumus kimia umum (C6H10O5)n. Zat tersebut mengandung banyak molekul gula-gula sederhana. Kedua golongan utama dari polisakarida adalah pati dan selulosa (Sampurna 2008).

Pengujian karbohidrat dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu uji molisch, uji benedict, uji barfoed, uji fermentasi, uji selliwanoff, uji osazon, uji Tauber, dan uji Iod. Uji molisch digunakan untuk menentukan karbohidrat secara umum, uji benedict digunakan untuk menentukan gula pereduksi dalam karbohidrat. Uji barfoed digunakan untuk mengidentifikasi antara monoskarida, disakarida, dan polisakarida. Uji selliwanof digunakan untuk menentukan karbohidrat jenis ketosa. Uji fermentasi yang menggunakan ragi dapat mencerna dan merubah karbohidrat menjadi etil alkohol dan gas karbondioksida. Uji osazon digunakan untuk mengamati perbedaan yang spesifik bagi tiap karbohidrta melalui penampang endapan yang dihasilkannya. Pada uji iod, hanya pati lah yang dapat membentuk senyawa kompleks berwarna biru dengan iodium (Rismaka 2009).

Metode Praktikum

Tempat                 : Laboratorium Biokimia I

Waktu Praktikum            : Pagi (08.30-11.00)

Alat dan Bahan   :

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini di antaranya adalah tabung reaksi, pipet, pengaduk, pipet ukur, tabung reaksi, mikroskop, lemari pendingin, dan kantong dialisis. Sedangkan untuk bahan yang digunakan antara lain gelatin, aquades dingin, air mendidih, pati, kalium ferosianida K4Fe(CN)6 0.2 N, fericlorida FeCl3 0.02 N, ferihidroksida 33%, NaCl 10%, MgSO4, gelatin 15%, CuSO4 5%,  0.1 N asam asetat, 0.1 N Na-asetat, 1/15 M Na2HPO4, 1/15 M KH2PO4, sukrosa 10%, NaCl 0.3%, NaCl 0.9%, NaCl 5%, dan darah segar.

Prosedur percobaan         :

Percobaan pertama yang dilakukan adalah pembuatan koloid liofil, koloid liofob, dan pengendapan larutan koloid dengan larutan garam.

Percobaan koloid liofil dilakukan dengan membuat dua jenis koloid yaitu koloid gelatin 2% dan koloid pati 2%. Koloid gelatin 2% dibuat dengan cara pada gelas piala 250 ml dicampurkan 2 g gelatin dengan  25 ml aquades dingin. Kemudian campuran dibiarkan hingga semua gelatin menarik air dan mengembang. Setelah itu, campuran tadi ditambahkan air mendidih dan diaduk. Koloid pati 2% dibuat dengan cara pada gelas piala 250 ml dicampurkan 2 g pati dengan 10 ml air dingin. Campuran tersebut diaduk hingga homogen. Setelah itu ditambahkan air mendidih sebanyak 90 ml dan diaduk kembali hingga homogen.

Percobaan koloid liofob dilakukan dngan membuat dua jenis koloid, yaitu koloid biru berlin dan koloid ferihidroksida. Koloid biru berlin dibuat dengan cara kalium ferosianida K4Fe(CN)6 0.2 N dicampurkan dengan feriklorida FeCl3 0.02 N ke dalam gelas piala 100 ml dan diaduk hingga homogen. Kemudian campuran yang telah terbetuk diambil sebanya 5 ml dan diencerkan dalam tabung reaksi untuk mengetahui ada tidaknya endapan. Sedangkan koloid ferihidroksida dibuat dengan cara 1 ml ferihidroksida 33% dicampurkan dengan 200 ml akuades mendidih dalam gelas piala. Campuran diaduk hingga homogen.

Percobaan pengendapan koloid dengan larutan garam dilakukan dengan mengambil bahan dari percobaan koloid liofi dan liofob. Percobaanini dilakukan dengan cara dalam salah satu koloid liofil (gelatin atau pati)         ditambahkan dengan NaCl 10% hingga terbentuk endapan. Ketika endapan jenuh maka dalam larutan ditambahkan aquades. Dan ketika endapan tetap tidak terbentuk maka ditambahkan MgSO4 sampai jenuh. Sama halnya dalam pengendapan koloid liofob dengan menggunakan larutan garam. Salah satu koloid liofob (biru berlin atau ferihidroksida) ditambahkan beberapa ml NaCl 10% hingga terbetuk endapan.

Setelah dilakukan percobaan pengendapan, untuk mengetahi sifat-sifat larutan koloid dilakukan percobaan difusi melalui gel. Gelatin 15% dimasukkan pada empat tabung reaksi masing-masing 5 ml dan didinginkan hingga membeku. Kemudian pada dua gelatin pertama ditambahkan koloid yang berbeda (CuSO4 5% atau biru berlin) dan dua gelatin lainnya ditambahkan larutan yang berbeda (eosin atau giemsa).

Percobaan kedua dilakukan untukmembuat jenis larutan penyangga, yaitu percobaan buffer. Percobaan buffer ini ada dua macam, yaitu buffer standar asetat (Walpole) dan buffer fosfat standar (Sorensen). Buffer standar asetat (Walpole) dibuat dengan cara larutan 0.1 N asam asetat dicampurkan dengan Na-asetat pada lima tabung reaksi. Adapun jumlah (ml) antara asam asetat dengan na-asetat yang dicampurkan adalah tabung I 9,25:0.75, II 8.2:4.8, III 6.3:3.7, IV 4:6, V 2.1:7.9. Kemudian pH dari masing-masing campuran dicari dengan menggunakan pHmeter. Untuk buffer fosfat standar (Sorensen) dibuat dengan cara 1/15 M Na2HPO4 dicampurkan dengan 1/15 M KH2PO4. Adapun jumlah (ml) 1/15 M Na2HPO4 dengan 1/15 M KH2PO4 yang dicampurkan dalam tabung reaksi adalah tabung I 0.5:9.5, II 1.2:8.8, III 2.65:7.35, IV 5:5, V 7.15:2.85. Sama halnya dengan buffer standar asetat, pH buffer fosfat standar pun dicari dengan menggunakan pHmeter.

Percobaan ketiga adalah percobaan tekanan osmotic yang bertujuan mengamati tekanan osmotic pada larutan. Untuk mengetahui tekanan osmotik pada larutan sejati, sukrosa 10% dimasukan dalam kantong dialisis yang dilengkapi dengan prop karet dan gabus berlubang tempat pipa gelas berskala  yang akan dimasukan sebagai pengukur tekanan osmotik. Pipa gelas berskala dalam keadaan dicelupkan dalam larutan sukrosa. Sedangkan kantong dialisis harus dalam keadaan sedikit tekanan posistif. Hal ini dapat dilakukan dengan cara kantong dialisis ditiup perlahan melalui pipa lain. Setelah keadaannya sesuai, kantong dialisis dimasukan dalam gelas piala 500 ml yang sebelumnya telah diisi aquades  sehingga permukaan sukrosa dalam kantong dialisis dapat sejajar dengan permukaan aquades. Kemudian dilakukan pengamatan mengenai penurunan permukaan larutan sukrosa.

Tekanan osmotik cairan sel darah merah diketahui dengan melakukan percobaan sebagai berikut. Dalam tiga tabung reaksi diisi 5 ml larutan NaCl dengan konsentrasi berbeda (0.3%, 0.9%, 5%). Kedalam tabung reaksi tersebut ditetesi dengan darah segar kemudian disuspensikan. Kemudian pengamatan terhadap peristiwa dalam suspensi tersebut diamati di bawah mikroskop.

Hasil Pengamatan

Tabel.1 Pengamatan pengendapan koloid dengan larutan garam

Koloid Pengamatan
Liofil 

  • Gelatin
  • Pati

Liofob

  • Biru berlin
  • ferihidroksida
 

++

+

+

+

Ket : – : tidak ada endapan

+ : endapan sedikit

++ : endapan cukup banyak

+++ : endapan banyak

+++ : endapan banyak sekali

Tabel. 2 Pengamatan sifat-sifat larutan koloid

Koloid Pengamatan
CuSO4 

Eosin

Giemsa

Biru berlin

Berdifusi 

Berdifusi

Merembes

Tidak berdifusi

Tabel. 3 Data pH buffer standar asetat (Walpole)

Volume 

CH3CooH

Volume 

CH3CooNa

pH terukur pH teoritis Kapasitas buffer
9.25 

8.2

6.3

4

2.1

0.75 

1.8

3.7

6

7.9

4

4

5

5

3.66 

4.09

4.52

4.93

5.33

0.769 

0.86

0.95

1.03

1.12

Reaksi : CH3CooH + NaOH         CH3CooNa + H2O

Contoh perhitungan : dik : Ka CH3CooH = 1.76 x 10-5

pKa CH3CooH = 4.7545

molaritas CH3CooH = 0.1 N x Va

molaritas CH3CooNa = 0.1 N x Vg

H+ = Ka x Molaritas asam = 1.76 x 10-5 x 0.1 N x 9.25 = 21.7 x 10-5

Molaritas basa                          0.1 N x 0.75

pH = 5 – log 21.7

= 3.66

Kapasitas buffer = pH =   3.66     = 0.769

pKa   4.7545

Tabel. 4 Data pH buffer standar fosfat (Sorensen)

Volume 

Na2HPO4

Volume 

KH2PO4

pH terukur pH teoritis Kapasitas buffer
0.5 

1.2

2.65

5

7.15

9.5 

8.8

7.35

5

2.85

6

6

7

7

8.4 

8.07

7.648

7.205

6.806

1.17 

1.12

7.648

1

0.944

Ka KH2PO4 = 6.23 x 10-8 pKa KH2PO4 = 7.2055           N fosfat = 0.07

Tabel. 5 Data pengamatan tekanan osmotic

Darah + NaCl Gambar (perbesaran 10 x 40) Keterangan
 

0.3%

 

Cenderung menggembung

 

0.9%

 

Cenderung utuh

 

5%

 

Berkerut

Pembahasan

Koloid terbagi menjadi dua jenis yaitu koloid liofil dan koloid liofob. Sistem koloid  di mana partikel terdispersinya mempunyai daya adsorpsi relatif besar disebut koloid liofil yang bersifat lebih stabil. Koloid liofil (suka cairan) adalah koloid di mana terdapat gaya tarik-menarik yang cukup besar antara fase terdispersi dan medium pendispersi.  Sedangkan jika partikel terdispersinya mempunyai gaya absorpsi yang cukup kecil, maka disebut koloid liofob yang bersifat kurang stabil. Koloid liofob (tidak suka cairan) adalah koloid di mana terdapat gaya tarik-menarik yang lemah atau bahkan tidak ada sama sekali antar fase terdispersi dan medium pendispersinya.

Pada percobaan diketahui bahwa penambahan larutan elektrolit (NaCl 10%) menyebabkan pengendapan pada koloid. Pengendapan ini disebabkan oleh penambahan NaCl yang membuat system koloid menjadi tidak stabil. Ion-ion yang telah diadsorpsi oleh partikel koloid dinetralkan oleh larutan elektrolit dengan muatan ion yang berlawanan. Koloid liofobik lebih cepat mengendap karena muatan yang berlawanan dengan muatan dari NaCl. Penambahan koloid liofil pada sol liofobik menyebabkan sol liofobik kurang sensitive terhadap pengaruh pengendapan larutan elektrolit. Ini menunjukkan fenomena aksi perlindungan zat liofilik yang merupakan koloid pelindung (Respati 1986).

Pada pengamatan difusi, digunakan bahan-bahan seperti CuS04, Eosin, Giemsa, dan biru berlin. Pada keempat zat tersebut yang berdifusi dengan gel adalah eosin dan CuS04. Pada giemsa hanya terjadi perembesan dan biru berlin tidak mengalami difusi. Hal ini disebabkan oleh giemsa dan biru berlin bukan tergolong kedalam koloid liofil.

Penggunaan giemsa dalam bidang medis adalah  untuk memvisualisasikan kromosom. Hal ini dapat mengidentifikasi penyimpangan kromosom seperti translokasi dan simpang susun. Hal ini juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi sel-sel Mast.  Selain itu giemsa dapat digunakan untuk diagnosis histopatologi malaria dan beberapa spirochete lain dan parasit protozoa darah. Sedangkan kemampuan biru berlin dalam menggabungkan monocations membuatnya berguna sebagai agen eksekusi untuk kontaminasi racun dari logam berat. Dalam bidang farmasi, biru berlin digunakan untuk menetralisir pasien yang terkontaminasi thallium atau cesium radioaktif (anonym 2001).

Pada percobaan pengukuran pH digunakan dua konsep yaitu konsep Walpole, dan Sorensen. Percobaan Walpole secara teoritis merupakan pengukuran zat bersifat asam dengan kisaran pH sebesar 4-5.  Hal ini sesuai dengan pH terukur dalam percobaan yg rataannya berkisar antara 4-5. Pada percobaan Sorensen, secara teoritis pH yang seharusnya di dapatkan berkisar antara 7-8 tetapi, pada percobaan ditemukan adanya perbedaan. pH terukur berada di kisaran 5-7. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kontaminasi larutan buffer, pengukuran yang salah, dan kesalahan kalibrasi.

Pada pengamatan darah diterapkan mengenai konsep osmosis. Osmosis adalah kasus khusus dari transpor pasif, dimana molekul air berdifusi melewati membran yang bersifat selektif permeabel. Dalam sistem osmosis, dikenal larutan hipertonik (larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi), larutan hipotonik (larutan dengan konsentrasi terlarut rendah), dan larutan isotonik (dua larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut sama). Larutan hipotonik (NaCl 0.3 %) adalah larutan dengan konsentrasi lebih rendah daripada yang lain sehingga molekul bergerak masuk ke dalam sel darah sehingga sel menggembung. Sedangkan larutan hipertonik (NaCl 5%) adalah suatu larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi dari pada yang lain,  molekul bergerak ke luar sel darah sehingga darah berkerut. Namun, pada larutan NaCl 0.9% sel darah berbentuk tetap (isotonik) hal ini dikarenakan NaCl 0.9% memiliki konsentrasi zat yang hampir sama dengan cairan tubuh/darah. Oleh sebab itu larutan NaCl 0.9% disebut sebagai larutan fisiologis (Bima 2008).

Larutan fisiologis digunakan sebagai pengencer organik pada suatu percobaan karena mengandung unsure elektrolit yang dapat mempertahankan daya hidup suatu subjek percobaan. Larutan dan garam fisiologis diperlukan karena natrium (Na) merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler yang memegang peranan penting pada regulasi tekanan osmotisnya, juga pada pembentukan potensial listrik yang perlu bagi kontraksi otot dan penerusan impuls saraf. Sehingga untuk tujuan preservasi larutan fisiologi adalah bahan pengencer yang baik (Effendie 2005).

Daftar Pustaka

Respati.1986. Dasar-dasar Ilmu Kimia . Jakarta: Aksara Baru.

Staf pengajar kimia. 2006. Kimia.Bogor:IPB.

Keenan et al.2004. KimiaUntuk Universitas. Aloysius, penerjemah.

Jakarta:Erlangga.Terjemahan dari : Chemistry for University.

Anonim . 2001. Giemsa. Terhubung berkala[http://en.wikipedia.

org/wiki/Giemsa_stain] 3 Oktober 2010

Effendie, M.I. 2005. Biologi Perikanaan. Terhubungberkala[http://bdp45.co.cc

/index.php?option=com_content&view=article &id=92:larutan-fisiologis-dan-

aquades&catid=43:fisiologi&Itemid=153.] 3 Oktober 2010

PROTEIN

Pendahuluan

Protein adalah senyawa organik yang banyak dijumpai dalam semua makhluk hidup. Protein terdiri dari karbon, hidrogen, nitrogen, dan umumnya juga mengandung sulfur.Molekulnya berkisar antara 6000 hingga jutaan. Satu molekul protein terdiri dari rantai panjang polipeptida. Polipeptida ini berasal dari asam-asam amino yang saling berikatan dengan urutan yang khas. Ikatan teratur yang berurutan ini dinamakan struktur primer protein. Polipeptida dapat melipat atau menggulung yang menyebabkan timbulnya struktur sekunder. Struktur tersier asam amino berbentuk tiga dimensi dari polipeptida yang menggulung atau melipat ini. Struktur kuartener muncul dari hubungan structural beberapa polipeptida yang terlibat. Pemanasan dengan suhu di atas 50oC, atau pemberian asam/basa kuat akan membuat protein kehilangan struktur tersiernya yang khas. Hal ini juga dapat menimbulkan koagulat yang taklarut (misalnya putih telur). Proses ini dapat membuat sifat hayatinya menjadi tidak aktif (Tanti 2009).

Struktur sekunder protein adalah struktur tiga dimensi lokal dari berbagai rangkaian asam amino pada protein yang distabilkan oleh ikatan hidrogen. Berbagai bentuk struktur sekunder misalnya alpha helix berupa pilinan rantai asam-asam amino berbentuk seperti spiral. Beta-sheet berupa lembaran-lembaran lebar yang tersusun dari sejumlah rantai asam amino yang saling terikat melalui ikatan hydrogen atau ikatan tiol (S-H).Beta-turn, dan gamma-turn.

Ikatan antara asam amino ialah ikatan peptida, maka struktur primer protein juga menunjukkan ikatan peptida yang urutannya diketahui. Untuk mengetahui jenis, jumlah dan urutan asam amino dalam protein dilakukan analisis yang terdiri dari beberapa tahap yaitu penentuan jumlah rantai polipeptida yang berdiri sendiri, pemecahan ikatan antara rantai polipeptida tersebut, pemecahan masing-masing rantai polipeptida, dan analisis urutan asam amino pada rantai polipeptida.

Asam amino digolongkan berdasarkan struktur gugus R digolongkan atas gugus R berupa hydrogen atau rantai karbon, contohnya Glisin, alanin, valin, leusin, isoleusin, dan fenilalanin. Gugus R mengandung gugus hidroksil (-OH) contohnya serin, treonin, dantirosin. Gugus R mengandung gugus karboksil (-COOH), contohnya aspartat asam glutamate. Gugus R mengandung nitrogen (N), contohnya asparagin, glutamin, lisin, arginin, histidin, dan triptofan. Gugus R mengandung belerang (S), contohnya sistein dan metionin. Gugus R membentuk ikatan siklik dengan gugus amina, contohnya prolin (Gunawan 2010).

TujuanPraktikum

Praktikum bertujuan untuk menentukan sifat dan struktur asam amino dan protein melalui uji-uji kualitatif. Selain itu untuk mempelajari beberapa reaksi uji terhadap asam amino dan protein.

MetodePraktikum

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini diantaranya adalah tabung reaksi, gelas piala, gelas ukur, pipet tetes, pipet  volumetrik, kertas saring, corong, dan penangas air. Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan adalah albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, fenol 2%, pereaksi millon, pereaksi Hopkins cole, pereaksi biuret, ninhidrin, Xantoproteat, H2SO4, NaOH 10%, HNO3 pekat, CuSO4 0.1 %,dan Pb-asetat 5 % .

Percobaan pertama pereaksi millon ditambahkan kedalam 3 ml larutan protein sebanyak 5 tetes. Larutan terdiri atas albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan  fenol 2%.

Percobaan kedua pereaksi Hopkins-Cole ditambahkan kedalam 2 ml larutan bahan sebanyak 2 ml kedalam tabung  reaksi. Setelah itu, campuran ditambah dengan 3 ml asam pekat melalui dinding tabung. Setelah beberapa detik akan ditemukan cincin violet pada pertemuan cairan tersebut.

Percobaan ketiga larutan ninhidrin 0.1% dimasukkan kedalam 3 ml larutan uji sebanyak 0.5 ml. Setelah itu campuran dipanaskan dalam penangas selama 10 menit dan akan ditemukan perubahan warna.

Percobaan keempat 2 ml larutan protein ditambahkan dengan 5 ml NaOH 10 % dan dididihkan selama beberapa menit. Pada campuran tersebut ditambahkan 2 tetes larutan Pb-asetat 5 %, dan pemanasan dilanjutkan hingga beberapa menit sampai terjadi perubahan warna.

Percobaan kelima 2 ml larutan protein ditambahkan 1 ml HNO3 pekat, dicampur, kemudian dipanaskan, diamati timbulnya warna kuning tua. Campuran didinginkan, ditambahkan tetes demi tetes larutan NaOH pekat sampai larutan menjadi basa.

Percobaan keenam 1 ml NaOH 10% ditambahkan kedalam 3 ml larutan protein dandikocok. Setelah itu campuran ditambahkan 1 atau 2 tetes larutan CuSO4 0.1%.akan ditemukan perubahan warna pada campuran tersebut.

HasilPengamatan

Tabel 1.UjiMillon

Larutan Pengamatan Keterangan
Albumin 2% - Endapan putih
Gelatin 2% - Tidak ada endapan
Kasein 2% - Endapan Putih
Pepton 2% - Endapan Putih
Fenol 2% - Tidak ada endapan

Keterangan:     +    : terbentuk endapan merah

-          : tidak terbentuk endapan merah

Dari kiri kekanan : Albumin 2%, Gelatin 2%, Kasein 2%, Pepton 2%, Fenol 2%.

Tabel 2.Uji Hopkins-Cole

Larutan Pengamatan Keterangan
Albumin 2% + Violet tipis
Gelatin 2% + Violet tipis
Kasein 2% + Violet tipis
Pepton 2% + Violet tipis

Keterangan :    +    : terbentuk cincin violet

-          : tidak terbentuk cicin violet

Dari kiri ke kanan : Albumin 2%, Gelatin 2%, Kasein 2%, Pepton 2%.

Tabel 3.UjiNinhidrit

Larutan Pengamatan Keterangan
Albumin 2% + Ungu kebiru-biruan
Gelatin 2% + Ungu
Kasein 2% - Bening
Pepton 2% + Ungu

Keterangan :    +    : terbentuk warna ungu

-          : tidak terbentuk warna ungu

Dari kiri ke kanan : Albumin 2%, Gelatin 2%, Kasein 2%, Pepton 2%.

Tabel 4.Uji Belerang

Larutan Pengamatan Keterangan
Albumin 2% + Hitam
Gelatin 2% - Bening
Kasein 2% + Keruh
Pepton 2% + Hitam

Keterangan :    +    : terbentuk endapan hitam

-          : tidak terbentuk endapan hitam

Dari kiri ke kanan : Albumin 2%, Gelatin 2%, Kasein 2%, Pepton 2%.

Pembahasan

Dari sekitar 20 jenis asam amino yang dibutuhkan tubuh, sembilan di antaranya disebut sebagai asam amino esensial atau penting karena tubuh tidak bisa membentuknya dan harus di dapat dari makanan. Berikut ini asam-asam amino esensial: histidine, isoleucine, leucine, lysine, methionine, phenylalanine, threonine, valine, tryptophan. Asam amino yang lain disebut sebagai non-esensial karena tubuh dapat membentuknya. Fungsinya antara lain untuk menjaga kesehatan fungsi ginjal dan fungsi seksual priaseperti arginine, berguna menjaga fungsi hati. Alanine, pengaturan tekanan darah dan aktivitas seksual pria. Glutamic Acid dan Choline menjaga fungsi kesehatan otak. Proline untuk pembentukan kolagen dan penyerapan zat-zat gizi bagi tubuh. Berikut ini asam-asam amino non esensial :arginin, asam aspartat, asam glutamat, asparagin, glisin, alanin, histidin, prolin, serin, tirosin, ornitin, cystin, dan asam aminobutirat.

Albumin merupakan protein pengangkut asam lemak dalam darah (Suwandidkk,1989). Di dalam plasma manusia albuimin merupakan fraksi protein dengan berat molekul 66.300 sampai 69.000, terdiri dari asam amino. Kandungan utamanya adalah asam aspartat, glutamate dan sangat sedikit triptofan. Albumin merupakan 50% komponen dari protein plasma dan bertanggung jawab atas 75 – 80% tekanan osmotic pada plasma manusia (Murray et al, 1990). Kasein adalah protein yang paling banyak tersedia di susu. Protein ini relatif tidak bisa larut dan cenderung membentuk struktur yang disebut misel yang meningkatkan kelarutannya di air. Selama pemprosesan susu, yang umumnya melibatkan panas atau asam, senyawa kasein peptide dan struktur misel akan terganggu dan membentuk struktur yang lebih sederhana. Hasilnya, material seperti gelatin terbentuk. Gelatin kering mengandung kira-kira 84 – 86 % protein, 8 – 12 % air dan 2 – 4 % mineral. Dari 10 asam amino essensial yang dibutuhkan tubuh, gelatin mengandung 9 asam amino essensial, satuasam amino essensial yang hampir tidak terkandung dalam gelatin yaitu triptofan.

Pada berbagai uji kualitatif yang dilakukan terhadap beberapa macam protein, semuanya mengacu pada reaksi yang terjadi antara pereaksi dan komponen protein, yaitu asam amino tentunya. Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik pada gugus R-nya, sehingga dari reaksi tersebut dapat diketahui komponen asam amino suatu protein. Prinsip dari uji millon adalah pembentukan garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi. Tirosin merupakan asam amino yang mempunyai molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan membentuk garam merkuri dengan pereaksi millon.

Dari hasil percobaan, diketahui bahwa protein albumin dan kasein mengandung Tirosin sebagai salah asam amino penyusunnya, sedangkan gelatin dan pepton tidak. Fenol dalam hal ini digunakan sebagai bahan percobaan karena Tirosin memiliki molekul fenol pada gugus R-nya. Di sini, uji terhadap fenol negatif, walaupun secara teori tidak. Alasan yang mungkin untuk hal ini adalah kesalahan praktikan dalam bekerja.

Pada uji Hopkins cole, uji positif ditunjukkan oleh albumin, gelatin, kasein, dan pepton, dengan ditunjukkan oleh adanya cincin berwarna ungu. Uji ini spesifik untuk protein yang mengandung Triptofan. Triptofan akan berkondensasi dengan aldehid bila ada asam kuaat sehngga membentuk cincin berwarna ungu. Protein yang mengandng sedikitnya satu gugus karboksil dan gugus asam amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk persenyawaan berwarna. Uji ini bersifat umum untuk semua asam amino, dan menjadi dasar penentuan kuantitatif asam amino. Pada uji ini, hanya kasein yang menunjukkan uji negatif terhadap ninhidrin. Hal ini disebabkan karena pada kasein tidak mengandung sedikitnya satu gugus karboksil dan amino yang terbuka.

Sistein dan Metionin merupakan asam amino yang mengandung atom S pada molekulnya. Reaksi Pb-asetat dengan asam-asam amino tersebut akan membentuk endapan berwarna kelabu, yaitu garam PbS. Penambahan NaOH dalam hal ini adalah untuk mendenaturasikan protein sehingga ikatan yang menghubungkan atom S dapat terputus oleh Pb-asetat membentuk PbS. Dari semua bahan yang diuji, hanya albumin yang membentuk endapan PbS, sehingga dapat disimpulkan albumin mengandung Sistein ataupun Metionin. Inti benzena dapat ternitrasi oleh asam nitrat pekat menghasilkan turunan nitrobenzena. Fenilalanin, Tirosin, dan Triptofan yang mengandung inti benzena pada molekulnya juga mengalami reaksi dengan HNO3 pekat. Untuk perbandingan, dapat ditunjukkan oleh fenol yang bereaksi membentuk nitrobenzena. Hasil uji menunjukkan bahwa dari semua bahan, hanya kasein yang tidak mengandung asam amino yang mempunyai inti benzena pada molekulnya. Tetapi hal ini patut dipertanyakan, karena dari data-data yang diperoleh pada uji millon dan uji Hopkins cole, kasein mengandung tirosin dan triptofan. Salah satu alasan yang mungkin adalah karena kesalahan kerja praktikan dalam mengamati warna yang terbentuk selama reaksi.

Pada uji biuret, semua protein yang diujikan memberikan hasil positif. Biuret bereaksi dengan membentuk senyawa kompleks Cu dengan gugus -CO dan -NH pada asam amino dalam protein. Fenol tidak bereaksi dengan biuret karena tidak mempunyai gugus -CO dan -NH pada molekulnya.

Simpulan

Protein dan asam amino memberikan reaksi yang bersifat khas, bukan hanya bagi gugus amino dan gugus karboksil bebas, tetapi juga bagi gugus R yang terkandung di dalamnya. Protein dapat bereaksi dengan pereaksi-pereaksi lain seperti juga asam amino yang menjadi penyusunnya.

Daftar pustaka

Girindra, A. 1986. Biokimia I. Jakarta: Erlangga.

Gunawan.2010. Asam amino. terhubung berkala [http://www.scribd.com/

doc/12936574/Asam-Amino-Non-Esensial] 20 Oktober 2010

Lehninger, A. 1988. Dasar-dasar Biokimia. Terjemahan Maggy Thenawidjaya.

Jakarta:Erlangga

Tanti.2009. Protein. Terhubung berkala [http://id.shvoong.com/exact

sciences/biology/1902571-protein/] 20 Oktober 2010

 

GLUKOSA DARAH

 

Pendahuluan

Tingkat glukosa dalam darah dikenal dengan istilah gula darah, kadar gula darah ini diatur oleh tubuh. Oleh tubuh glukosa digunakan sebagai sumber energy untuk melakukan metabolisme sel. Umumnya tingkat gula darah bertahan pada batas-batas yang sempit sepanjang hari: 4-8 mmol/l (70-150 mg/dl). Tingkat ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada level terendah pada pagi hari. Kadar  glukosa  dalam tubuh makhluk hidup dapat digunakan untuk memprediksi metabolismeme yang mungkin terjadi dalam sel dengan kandungan gula yang tersedia. Jika kandungan l glukosa dalam tubuh sangat berlebih maka glukosa tersebut akan mengalami reaksi katabolisme secara enzimatik untuk menghasilkan energy. Namun jika kandungan glukosa tersebut dibawah batas minimum,maka asam piruvat yang dihasilkan dari proses katabolisme bisa mengalami proses enzimatik secara anabolisme melalui glukoneogenesis untuk mensintesis glukosa dan (Poedjiadji 1994)

Fruktosa dan galaktosa juga sering di temukan dalam gula darah. Namun hanya glukosa yang kadarnya diatur oleh hormone insulin dan leptin dalam tubuh. Tingkat gula darah diatur melalui umpan balik negatif untuk mempertahankan keseimbangan di dalam tubuh. Level glukosa di dalam darah dimonitor oleh pankreas. Bila konsentrasi glukosa menurun, karena dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh, pankreas melepaskan glukagon, hormon yang menargetkan sel-sel di lever (hati). Kemudian sel-sel ini mengubah glikogen menjadi glukosa (proses ini disebut glikogenolisis). Glukosa dilepaskan ke dalam aliran darah, hingga meningkatkan level gula darah.

Tujuan Percobaan

Percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui serta menentukan kadar gula pereduksi (glukosa) dalam darah dengan metode spektofotometri dan melakukan pemisahan/iosolasi  suatu makromolekul polisakarida dalam darah hewan.

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah tabung reaksi, penjepit tabung reaksi, rak tabung reaksi, erlenmeyer, pipet tetes, pipet volumetrik, tabung Folin Wu, spektronik-20, kertas saring, dan corong. Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah darah ayam, akuades, larutan Na-wolframat larutan fosfomolibdat, larutan standar glukosa 0,1 dan 0,2 mg/ml, larutan H2SO4 0,67 N, dan larutan kupritartat alkalis.

Prosedur Percobaan

Tabung erlenmeyer kecil di isi oleh satu ml darah dengan cara dipipet, setelah itu ditambahkan 1 ml Na-wolframat 10%, dan 1ml H2SO4 0,67 N tetes demi tetes. Larutan yang telah dicampur didiamkan selama 10 menit, kemudian larutan disaring dengan kertas saring dalam tabung erlenmeyer. Tiga tabung reaksi disiapkan, ketiga tabung diisi dengan 1 ml filtrat, 1ml standar glukosa, dan 1ml akuades. Masing-masing tabung ditambahkan 1 ml larutan kupritartrat. Selanjutnya ketiga tabung tersebut dipanaskan dengan air mendidih selama 8 menit secara bersama-sama. Setelah itu ketiga tabung didinginkan dan diencerkan dengan 7 ml akuades. Larutan fosfomolibdat sebanyak 1 ml ditambahkan pada setiap tabung,  perubahan warna yang terjadi diamati dan diukur intensitas warnanya dengan spektronik-20 pada panjang gelombang 660 nm.

Data Hasil pengamatan

Tabel.1 Penentuan kadar glukosa darah

Larutans Absorban [Glukosa darah] mg/ml Glukosa darah (rata-rata)
Blanko 

Standar glukosa

Filtrat 1

Filtrat 2

Filtrat 3

0.000 

0.549

0.279

0.370

0.196

0.000 

1.000

0.508

0.674

0.357

 

0.513

 

Gambar 1 (blanko, standar 1, standar 2, filtrat 1, filtrat 2, filtrat 3)

Keterangan :    Standar glukosa = 0.1 mg/ml

FP = 1 ml aquades + 1 ml kupritartat + 7 ml aquades + 1 ml fosfomolibdat

1 ml aquades

= 10

Contoh perhitungan :

Glukosa darah = (Asampel / Astandar) x (standar glukosa) x FP

= (0.000/0.549) x (0.1) x 10

= 0.000

Glukosa darah (rata-rata) =  (filtrate 1 + filtrat 2 + filtrat 3 ) / 3

=  (0.508 + 0.674 + 0.357) / 3

=  0.513

Pembahasan

Uji glukosa darah pada praktikum ini menggunakan metode spektofotometri. Spektrometer absorbsi adalah sebuah alat untuk mengukur absorbsi (penyerapan) cahaya dengan energi (panjang gelombang) tertentu oleh suatu atom/molekul. Pengamatan dengan spektronik-20 menggunakan prinsip hukum Lambert Beer. Faktor yang mempengaruhi adalah konsentrasi larutan dan bentuk wadah. Bagian sinar yang diserap akan tergantung pada berapa banyak molekul yang beinteraksi dengan sinar. Bayangkan anda memiliki zat warna organik yang kuat/tajam. Jika zat warna tersebut berupa larutan pekat, maka akan diperoleh absorbansi yang sangat tinggi karena ada banyak molekul yang berinteraksi dengam sinar. Akan tetapi, dalam larutan yang sangat encer, sangat sulit untuk melihat warnanya. Absorbansinya sangat rendah. Jika ingin membandingkan zat warna tersebut dengan senyawa lain, namun tidak mengetahui konsentrasinya, maka tidak akan dapat dibuat perbandingan dengan baik tentang senyawa mana yang menyerap sinar lebih banyak. Bentuk wadah yang semakin panjang akan mempengaruhi panjang larutan sehingga sinar akan lebih banyak diserap karena sinar berinteraksi dengan lebih banyak molekul.(Budi 2008)

Praktikum kali ini digunakan beberapa pelarut dan pereaksi. Larutan tersebut antara lain adalah kupritartrat, akuades, fosfomolibdat,standar glukosa, H2SO4, Na-Wolframat, dan akuades. Fungsi penambahan akuades adalah mengencerkan darah sehingga albumin dalam darah akanlarut oleh akuades. Albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Albumin terdapat dalam serum darah. Penambahan Na-wolframat bertujuan mengendapkan albumin yangterlarut dalam air. H2SO4 berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pengendapan albumin oleh Na-wolframat. Larutan kupritartrat ditambahkan untuk membentukan warna biru ketika ditambahkan pereaksi fosfomolibdat, karena larutan ini mengandung asam laktat dan ion Cu+. Hal ini sesuai dengan prinsip uji tauber yang memberikan hasil positif (warna biru) pada larutan yang mengandung monosakarida (glukosa). Penambahan H2SO4 bertujuan menciptakan suasana asam karena reaksi dengan fosfomolibdat terjadi pada suasana asam (Poedjiadi 1992).

Gula darah atau kadar glukosa dalam darah sangat penting untuk diperhatikan. Kadar glukosa dalam darah harus seimbang dengan kebutuhan tubuh akan glukosa tersebut. Apabila kadar glukosa dalam darah menurun maka akan terjadi suatu keadaan yang disebut dengan hipoglikemia. Gejala-gejalanya adalah perasaan lelah, fungsi mental yang menurun, rasa mudah tersinggung, dan kehilangan kesadaran. Sedangkan keadaan tubuh bila kelebihan kadar glukosa dalam darah disebut dengan hiperglikemia. Keadaan ini pabila dibiarkan begitu saja tanpa adanya perbaikan keadaan tubuh maka akan menyebabkan penyakit yang disebut diabetes mellitus. Selain itu, kelebihan kadar glukosa yang berkepanjangan akan menyebabkan kerusakan pada mata, ginjal, dan saraf. Kadar glukodsa dalam darah ini dipengaruhi oleh pola makan dan aktivitas hormon insulin yang disekresi oleh pancreas. (Wikipedia 2010)

Kadar glukosa darah manusia dan mamalia berkisar antara 4.5-5.5 mmol/L. kadar ini dapat naik hingga 6.5-7.2 mmol/L setelah ingesti makanan yang mengandung karbohidrat. Dalam keadaan puasa, kadar glukosa ini turun pada kisaran 3.3-3.9 mmol/L. Pemamah biak, seperti sapi memiliki kadar glukosa yang rendah yaitu 3.3 mmol/L, pada kambing berkisar 2.2 mmol/L. Sebaliknya, kadar glukosa aves sangat tinggi yaitu berkisar 14.0 mmol/L. (Murray 2003)

Hasil yang didapat menunjukkan kadar glukosa dalam darah yang digunakan dalam praktikum untuk filtrat I adalah 50.8 mg tiap 100 ml darah, filtrat II adalah sebesar 67,4 mg tiap 100 ml darah dan filtrat III dalah sebesar 35.7 mg tiap 100 ml darah. Dari ketiga data ini, rata-rata kadar glukosa darah sebesar 51.3 mg tiap 100 ml darah. Dalam satuan lain rata-rata kadar glukosa darah ayam ini adalah 8.55 mmol/L. Data perhitungan ini menunjukan bahwa kadar glukosa pada ayam rendah dan sangat berbeda jauh dari data literatur, yaitu 14.0 mmol/L. Diagnosis yang dapat diberikan adalah ayam yang darahnya diambil sebagai bahan praktikum ini menderita hipoglikesemia. Kemungkinan lain yang terjadi pada ayam adalah pengambilan darah ayam terjadi pada keadaan ayam belum makan.

Glukosa merupakan hasil fotosintesis pada tumbuhan dan beberapa prokariota. Glukosa juga terbentuk dalam hati dan otot rangka dari pemecahan simpanan glikogen  (polimer  glukosa) serta disintesis dalam hati dan ginjal dari zat antara melalui proses yang disebut glukoneogenesis.

Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh manusia, yang menyediakan 4 kalori (17 kilojoule) energi pangan per gram. Pemecahan karbohidrat (misalnya pati) menghasilkan mono- dan disakarida, terutama glukosa. Melalui glikolisis, glukosa segera terlibat dalam produksi ATP, pembawa energi sel. Di sisi lain, glukosa sangat penting dalam produksi protein dan dalam metabolisme lipid. Karena pada sistem saraf pusat tidak ada metabolisme lipid, jaringan ini sangat tergantung pada glukosa. (Wikipedia 2010)

Glukosa diserap ke dalam peredaran darah melalui saluran pencernaan. Sebagian glukosa ini kemudian langsung menjadi bahan bakar sel otak, sedangkan yang lainnya menuju hati dan otot, yang menyimpannya sebagai glikogen  dan sel lemak, yang menyimpannya sebagai lemak. Glikogen merupakan sumber energi cadangan yang akan dikonversi kembali menjadi glukosa pada saat dibutuhkan lebih banyak energi. Meskipun lemak simpanan dapat juga menjadi sumber energi cadangan, lemak tak pernak secara langsung dikonversi menjadi glukosa. Fruktosa dan galaktosa, gula lain yang dihasilkan dari pemecahan karbohidrat, langsung diangkut ke hati, yang mengkonversinya menjadi glukosa. (Wikipedia 2010)

Kesimpulan

Spektrofotometri adalah sebuah metode yang digunakan untuk menentukan kadar glukosa dalam darah dengan menggunakan suatu alat yang disebut spektrofotometer. Prinsip kerja alat ini adalah dengan mengukur absorbsi cahaya dengan energi (panjang gelombang) tertentu oleh suatu atom/molekul. Intensitaas warna larutan adalah ukuran banyaknya gula yang ada di dalam filtrat. Hasil pengamatan dengan spektronik-20 dan perhitungan menunjukkan bahwa kadar glukosa yang diperoleh dari darah ayam adalah 0,513 mg/ml. Kadar glukosa dalam darah dipengaruhi oleh aktifitas tubuh, kesehatan dan faktor genetik.

Daftar Pustaka

[Anonim]. 2010. Gula Darah. http://id.wikipedia.org/wiki/Gula_darah (18 Desember 2010)

Budi Darmawan Setia. 2008. Penentuan Kadar Glikosa dalam Darah. http://d@rm4_1/penentuankadarglukosadalamdarah (18 Desember 2010)

Murray et al. 2003. Biokimia Harper. Edisi ke-25. Andry Hartono, penerjemah; Jakarta: EGC. Terjemahan dari: Biochemistry.

Poedjiadji, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press.

About these ads

2 Responses so far »

  1. 1

    rizkamil said,

    kakak makasih ya buat contoh laporannya :)

  2. 2

    JHD said,

    Laporannya bagus. Terima kasih.


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: